[Imc-oceania] PROPOSAL : [[Please help the translation]] Bentrokan Berdarah di Universitas Cendrawasih Papua

Haris haris-h at riseup.net
Fri Mar 17 09:01:18 UTC 2006


Anyone, Please help the translation for global feature, please go to
http://translations.indymedia.org/Translations/1142585584, for translate
the articles

for jakarta IMC feature
http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=671

--------------------------

<strong>3 orang Brimob dan 1 intelijen TNI tewas, Seorang ibu
tertembak</strong><br><br>
Aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih Abepura
(16/3) oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen
Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan
berdarah, menyebabkan 3 orang Brimob dan 1 intelijen TNI AU tewas,
seorang ibu mengalami luka tembak, serta puluhan lainnya dari pihak
mahasiswa dan pihak aparat mengalami luka-luka.<br>
<br>
Aksi pemblokiran jalan ini merupakan aksi lanjutan dari sehari
sebelumnya, Rabu (15/3), di tempat yang sama. Aksi pemblokiran ini
dimulai sejak pukul 07.00 setelah semalam sebelumnya ditutup massa.
Massa bertahan menggunakan tenda di jalan raya tepat di bawah jembatan
pernyeberangan Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen). Sejak kemarin
pagi, jalan tersebut ditutup total oleh massa. Dua ruas jalan raya itu
ditutup mati dengan menggunakan ban bekas yang dibakar, pepohonan yang
ada di halaman Kampus Program Studi Kedokteran Uncen ditebang dan
digunakan untuk menutup jalan. Selama dua hari, aksi di depan kampus
Uncen ini berlangsung damai dan tertib.<br>
<br>
baca juga : <a
href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=669">Rakyat Papua
dan Prajurit Polri/TNI Menjadi Korban dari Kebijakan SBY-Kalla yang Tidak
Aspiratif</a> | <a
href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=662">Sikap
politik Front Pepera PB Jayapura dan Parlemen Jalanan</a><br><br>
<br>
Ketua DPRP, Komarudin Watubun SH, yang sempat datang menawarkan beberapa
opsi agar aksi pemblokiran jalan itu dibuka, ditolak massa. Massa tetap
bersikukuh bertahan di jalan hingga ada kejelasan penutupan PT Freeport
Indonesia.
Ada tiga opsi yang ditawarkan oleh masyarakat, meminta PT Freeport
Indonesia ditutup, minta pasukan TNI/Polri ditarik dari lokasi PT
Freeport Indonesia dan meminta pembebasa 7 orang tahanan yang di Polres
Mimika.<br>
<br>
<b>Bentrokan pertama</b><br>
<br>
Bentrokan pecah sekitar pukul 12.15 WIT setelah ada beberapa lemparan
batu dan botol kearah aparat kepolisian yang sedang melakukan negosiasi
dengan massa yang diwakili Kosmos (Ketua Font Pepera Kota Jayapura yang
juga sebagai penanggung jawab aksi), Arnoldus Omba, dan Sekjen Front
Pepera PB, Selfius Bobi. Lemparan dari arah UPT Museum Universitas
Cenderawasih ini langsung memancing antara kedua kubu, yakni kubu massa
dan aparat kepolisian yang sejak awal sudah berjaga-jaga.<br>
<br>
Sebenarnya, ketegangan pertama ini tidak berlangsung lama dan massa
mundur. Massa umumnya memilih duduk di ruas jalan raya dekat jembatan
penyebarangan tersebut. Tapi dengan negosiasi yang cukup panjang, massa
tidak mau menerima tawaran aparat dan sempat memilih membuat aksi bisu
(tutup mulut).<br>
<br>
Namun aparat tetap memaksa agar pemblokiran jalan dibuka. Dengan cara
berbaris dan membentuk barikade, aparat kepolisian yang beratribut PHH
(Pasukan Huru Hara), berusaha merangsek dan maju mendesak massa dengan
tamengnya, disertai tembakan peringatan. Upaya ini mendapat perlawanan
dari mahasiswa, sehingga saat itu situasi di lokasi menjadi mencekam.
Massa sempat mundur ke dalam area kampus. <br>
<br>
Terjadi insiden penembakan terhadap seorang ibu yang bernama Rosihan
Hartini Paiki (40). Kapolda mengakui, bahwa yang bersangkutan terkena
tembakan di awal pembukaan jalan. "Saat itu ada anggota yang mabuk dan
melepaskan tembakan yang akhirnya mengenai ibu itu. Tetapi tidak
mengakibatkan luka yang begitu serius dan kini dirawat di RS
Bhayangkara," jelasnya.<br>
<br>
<b>Bentrokan berdarah</b><br>
<br>
Polisi kemudian membuat barikade di jalan menghadap ke arah kampus di
jalan tepat depan kampus.
Barikade polisi ini menyulut perlawanan dari dalam kampus. Dari halaman
kampus, mereka mulai melemparkan apa saja yang mereka pegang, ada kayu,
botol-botol, kaleng-kaleng dan juga batu.  Kemudian dari arah samping
kanan barikade polisi, massa mulai keluar kampus. Bentrokan dari sayap
kanan barikade membuat keadaan semakin memanas dan menyebabkan barikade
polisi mulai kocar-kacir. <br>
<br>
Sebagian polisi lari mundur. Melihat polisi mundur, massa terus mengejar
dengan melemparkan batu kearah aparat kepolisian tersebut. Dalam suasana
inilah, aparat menjadi bulan-bulanan oleh massa. Aparat berjatuhan dan
langsung dihujam pukulan dan timpukan batu-batu yang lumayan besar.<br>
<br>
Pihak polisi dan intel kemudian melepaskan tembakan ke arah mahasiswa
yang berada di sekitar Gedung Rektorat Uncen Abepura. Setelah itu datang
bantuan pasukan 2 kompi TNI dari 751, yang membantu menyisir lokasi.
Saat penyisiran ini baru diketahui 2 orang brimob tewas dengan luka-luka
akibat pukulan dan lemparan batu, dan beberapa lainnya luka-luka. Satu
orang brimob yang terluka parah kemudian meninggal saat dibawa ke RSUD
Abepura. Satu aparat lagi yakni anggota intelejen AURI ditemukan
meninggal dunia sekitar pukul 17.15 WIT, di depan sebuah rumah, tepat di
samping gedung kuliah Program Pendidikan Kedokteran Universitas
Cenderawasih (Uncen) Kampus Abepura. <br>
<br>
<br>
<b>Wartawan menjadi korban</b><br>
<br>
Sedikitnya tiga orang wartawan turut menjadi korban dalam bentrokan ini,
 Cunding Levi wartawan Tempo dan Tabloid Suara Perempuan Papua, Aryo
wartawan Kompas, Robert Vanwi Subiat wartawan Suara Pembaruan, dan
fotografer Saud Marpaung. <br>
<br>
Setelah bentrokan Cunding yang berada di depan Gedung FKIP (Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pengetahuan) dihadang dan dipukul sekelompok massa
walaupun telah menunjukkan Kartu Pers. Akibat dipukul, Cunding pingsan.
Dalam keadaan setengah sadar, Cunding menyatakan, merasa dibawa oleh
para mahasiswa ke salah satu gedung Jurusan Geografi. Setelah kondisinya
agak membaik, Cunding menyadari sejumlah barang berharga miliknya telah
hilang. Beruntung Kamera miliknya dikembalikan oleh salah seorang
mahasiswa yang melakukan penganiayaan, walaupun HP-nya hilang.<br>
<br>
Seorang fotografer Saud Marpaung juga mengalami luka di kepala yang
berlumuran darah akibat terkena lemparan batu.<br>
<br>
Sementara wartawan Kompas, Cahyo, terkena pukulan dan dianiaya oleh aparat
brimob. Saat akan mengambil gambar ia didorong lalu dipukuli, karena
kebetulan waktu itu sejumlah aparat kepolisian sedang emosi meliwat
temannya yang terkapar tewas.<br>
<br>
<br>
<b>Sweeping</b><br>
<br>
Setelah insiden bentrokan ini polisi melakukan sweeping terhadap para
aktivis dan mahasiswa. Sweeping dilakukan ke asrama-asrama mahasiswa dan
rumah-rumah penduduk.
<br><br>
Malam harinya sekitar pukul 19.00 WIT, puluhan aparat Brimob yang marah
melakukan penyisiran. Setiap kendaraan yang lewat dihentikan dan
digeledah. Sejumlah orang dipukul dan dianiaya oleh aparat Brimob saat
razia ini.
<br><br> Sampai Jumat (17/3), sekitar 57 orang sudah ditangkap termasuk
Sekretaris Front Pepera Selfius Boby dan Jefry Pagawak. 5 orang yang
diberitakan telah dijadikan tersangka belum diketahui identitasnya.<br>
<br>
Pasca bentrokan situasi kota sangat mencekam. Mayarakat khawatir terkena
tindakan balas dendam dalam sweeping yang dilakukan aparat ini, seperti
sweeping pasca bentrokan lainnya yang pernah dilakukan aparat di
berbagai daerah. Sebagian masyarakat memilih untuk mengungsi ke gunung
atau tidak berani keluar rumah.<br>
<br>
Kasatreskrim Polresta Jayapura AKP Victor MT Silalahi mengatakan
mahasiswa yang ditangkap  dan ditahan di Polresta, pihaknya berusaha
menjanjikan bahwa tidak ada lagi pemukulan sesampainya di polresta
terhadap mereka yang ditangkap itu, tapi tidak bisa menjamin tidak
terjadi pemukulan saat di luar polresta.
<br><br>
Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar, sebagai salah seorang pimpinan agama
dan masyarakat di Papua  meminta kepada aparat keamanan untuk tidak
mengejar dan menangkapi masyarakat dan demonstran yang berunjuk rasa
terkait peristiwa di Universitas Cendrawasih sehari sebelumnya. "Saat
ini suasana masih penuh duka dan emosi akibat  insiden kerusuhan di
Abepura kemarin. Diharapkan aparat keamanan tidak melakukan pengejaran
terhadap masyarakat," kata Leo kepada Menko Polhukam Widodo AS, Panglima
TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Pol Sutanto, dan Kepala BIN
Syamsir Siregar, di Jayapura, Jumat (17/3). Ia mengatakan hal itu dalam
pertemuan antara para tokoh agama, pemuka adat, tokoh pemuda dan
masyarakat, serta para tokoh politik dengan Menko Polhukam dan rombongan
di Markas Kodam Jayapura. Uskup  menegaskan masalah PT Freeport
Indonesia menjadi topik utama para demonstran itu. Hal itu merupakan
salah satu masalah utama yang menimbulkan frustasi di tanah Papua. Uskup
juga mengharapkan Presiden SBY dapat menyelesaikan berbagai permasalahan
yang terjadi di Papua sebagaimana yang terjadi di Aceh.
<br><br>
Pada Jumat (17/3)  sejumlah LSM di Jakarta yakni PBHI, Imparsial,
Kontras, Elsam Jakarta, Walhi, Infid, Pokja Papua, dan HRWG
mengadakan jumpa pers di Kantor PBHI, tentang penyisiran dan penangkapan
pasca
bentrokan. Hadir juga anggota DPD Papua, Pendeta Max Dometau.
<br><br>
Laporan dari lapangan menyebutkan penyisiran yang dilakukan aparat
keamanan terhadap asrama-asrama mahasiswa dan permukiman masyarakat
wilayah Pegunungan Tengah di kawasan Jayapura-Abepura-Sentani disertai
dengan
kekerasan dan intimidasi.
<br><br>
Kepala Divisi Daerah Konflik PBHI Laurent Mayasari mengungkapkan jalan
di depan Markas Brimob Polda Papua diblokade aparat kepolisian.
Masyarakat yang melalui jalan itu diperiksa. Lalu, warga yang tidak
punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) dibawa ke markas polisi untuk diinterogasi.
Sementara, penyisiran yang dilakukan di asrama mahasiswa dan permukiman
masyarakat membuat situasi di perkampungan mencekam. "Situasi ini
membangkitkan trauma peristiwa pelanggaran HAM di Abepura pada 7
Desember 2000 lalu. Ketakutan meluas di masyarakat dan mahasiswa yang
tinggal di asrama, semuanya bersembunyi," kata Laurent.
Selanjutnya, Sekretaris Badan Pengurus PBHI Muhammad Arfiandi
mengkhawatirkan nasib 10 orang mahasiswa Papua yang kini berada di
tahanan Polda Metro Jaya terkait peristiwa perusakan Gedung Plaza 89
pada Februari lalu.<br>
<br>
"Kami meyakini bahwa insiden yang terjadi telah ditunggangi oleh
pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana agar keadaan menjadi sangat
kacau. Karena, terbukti, korban dari peristiwa meluas bukan saja aparat
tapi juga mahasiswa dan warga sipil. Bahkan, terakhir, Kantor Komnas HAM
daerah Papua juga telah menerima teror serta beberapa peralatan kerjanya
dirampas oleh pihak yang belum bisa diidentifikasi," kata Muhammad
Arfiandi.<br>
<br>
Pendeta Max Dometau meminta agar penanggung jawab upaya pemulihan
keamanan pascaperistiwa kekerasan tersebut mengambil tindakan persuasif
dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Penanggung jawab itu
juga diminta memperhitungkan psikokultural masyarakat Papua  dan tidak
berperilaku diskriminatif.<br>
<br>
Sejumlah LSM juga mendesak Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dan
Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri) Jenderal Sutanto
untuk sesegera mungkin menarik keluar dari Papua seluruh satuan tugas
atau pasukan yang memiliki kedekatan emosional tinggi dengan aparat yang
menjadi korban.
<br><br>

***
<br>
baca juga : <br>
- <a
href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=669">Rakyat Papua
dan Prajurit Polri/TNI Menjadi Korban dari Kebijakan SBY-Kalla yang Tidak
Aspiratif<br>
</a>- <a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=662">Sikap
politik Front Pepera PB Jayapura dan Parlemen Jalanan</a>


--
+In Solidarity
Haris Hidayatullah


pub-key keys.indymedia.org key ID:0x128499BF





More information about the Imc-oceania mailing list